Wednesday, 18 March 2015

“ANAK-KU, AKU INGIN BERBICARA DENGANMU”



    Tuhan bersabda,”anak-Ku, Aku ingin berbicara denganmu. Kamu baru saja bangun pagi. Aku ingin berbicara denganmu, namun anak-Ku; kamu baru saja bangun tanpa berdoa kepada-Ku. Kamu bagun pagi dan mulai berteriak kepada istrimu karena belum dibawakan kopi hangat dan belum dibawakan ke tempat tidurmu. Ya! Kamu bangun dari tempat tidur dengan penuh kecemasan dan menjijikkan. Kamu tidak pernah memikirkan-Ku. Anak-Ku, Aku telah kehilangan kesempatan untuk berbicara denganmu.”

   “Kemudian Aku sedang memperhatikanmu, anak-Ku. Apa yang sedang engkau lakukan? Kamu sedang membersihkan gigimu dan badanmu. Aku sangat yakin bahwa engkau akan memikirkan-Ku. Aku sedang menunggumu! Namun, kamu tidak berdoa kepada-Ku. Malahan kamu malah membaca surat kabar, menonton televisi dan pergi ke ruang makan untuk menikmati sarapan. Aku sedang menunggumu anak-Ku, namun engkau tidak pernah memikirkan-Ku.”

     “Kemudian Aku kira bahwa sebelum engkau akan pergi bekerja, engkau akan memberikan kesempatan untuk berbicara kepada-Ku. Tapi itu tidak terjadi! Kamu begitu sibuk dengan menyemir sepatumu dan memilih pakaian yang cocok untuk pergi bekerja. Kemudian kamu mengambil tas kerjamu dan bergegas pergi ke dalam mobil dan mulai mengemudikan mobil untuk pergi ke kantor. Ketika engkau sedang pergi ke kantor untuk bekerja, Aku mengira bahwa engkau akan memikirkan-Ku. Ternyata tidak! Di dalam mobil, engkau mendengarkan music pop sepanjang dalam perjalanan menuju ke kantor. Engaku tidak pernah memikirkan Aku. Tapi, Aku sedang mengikutimu anak-Ku.”

         “Engkau telah mencapai tempat kerjamu. Ya, engkau adalah bos di tempat kerjamu! Engkau duduk di kursi goyangmu, dengan udara ber-AC dan mulai bekerja. Aku mengira bahwa engkau akan memikirkan-Ku sebelum mulai bekerja. Ternyata tidak! Engkau mulai membentak bawahanmu, meminta laporan dan memeriksa file yang kemarin. Engkau merencanakan apa yang akan dilakukan. Engkau begitu sibuk merencanakan perjalananmu dan juga dengan jadwal kegiatanmu sebagai priorotas utamamu dan tidak memberikan kesempatan bagimu untuk berbicara kepada-Ku. Kemudian, Aku berpikir untuk tidak mengganggumu.

       “Waktunya makan siang dan Aku berpikir bahwa engkau akan melantunkan doa sebelum makan: “Brahmarpanam”. Namun tidak! Engkau mengundang beberapa temanmu untuk urusan bisnis lagi. Engkau hanya memikirkan tentang masalah bisnis saja. Namun Aku tetap menunggumu dengan sabar, anak-Ku!”

         “Di sore hari, engkau kembali pulang ke rumah. Aku berpikir bahwa engkau terasa letih, jadi, Aku tidak akan mengganggumu. Ketika engkau sudah sampai di rumah, engkau minum kopi dan beberapa makanan ringan. Kemudian, Aku melihat engkau sudah merasa nyaman dan Aku bisa bicara denganmu. Namun engkau menghabiskan waktu dengan istri, anak-anakmu dan beberapa teman. Engkau mulai bercanda, membicarakan tentang kegiatan yang ada di tempat kerja tentang betapa hebatnya dirimu telah membentak yang lainnya, betapa berhasilnya dirimu telah mampu menjadi pimpinan dan juga keberhasilan di dalam urusan bisnis. Ya! Engkau mulai menceritakan tentang kehebatanmu.

         “Kemudian waktunya untuk makan malam. Aku mengira bahwa sekarang engkau telah bebas dari pekerjaan dan yang lainnya, namun engkau mulai menonton televisi dan makan malam, dan engkau tidak memberikan waktu untuk berbicara kepada-Ku. Malam mulai larut dan engkau merasa letih dan bersiap ke tempat tidur. Aku mengira bahwa engkau akan mengucapkan kata-kata pujian untuk-Ku. Ternyata tidak! Engkau begitu lelah sehingga engkau tidur dengan nyenyak. Aku masih belum mendapatkan waktu berbicara denganmu. Aku telah menunggumu mulai sejak pagi hari sampai malam ini. Aku telah siap memberikanmu waktu untuk bicara, namun engkau tidak memiliki-Ku di dalam pandangan hatimu. Aku masih menunggumu sepanjang waktu!”

       “Dengan kegemaran, pekerjaan, prioritas dan kesibukan pekerjaan kita telah memenuhi hati dan juga kepala kita, dan kita tidak punya waktu untuk memikirkan Tuhan. Kita tidak punya waktu untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, bahkan untuk sesaat. Jadi, sangatlah penting untuk mengosongkan kepala dan hati kita sehingga kita dapat mengalami keberadaan dan kasih Tuhan.

Sunday, 15 March 2015

SWAMI HANYA MEMBERIKAN SATU KESEMPATAN SAJA



    Pada suatu waktu, sebuah kelompok besar pebisinis datang menemui Swami. Mereka sangat ingin bisa mendapatkan banyak uang. Jadi  mereka membeli sebuah kelapa untuk bisa diberkati oleh Bhagavan. Swami mengambil kelapa itu dan hanya menyentuhnya dan memberikan kembali kelapa itu.

    Ketika mereka mengambil kelapa itu, ada suara gemerincing suara koin di dalam kelapa itu. Orang-orang ini bertanya kepada Swami, “Ada apa di dalam kelapa ini, Swami? Kelapa ini terdengar seperti gemerincing suara koin di dalamnya.”

      Swami berkata kepada mereka, “Dewi Lakshmi yaitu dewi kesejhatraan ada di dalam kelapa itu; namun jangan pecahkan kelapa ini. Taruhlah kelapa ini di dalam ruang doamu.”

     Orang-orang ini kemudian pergi ke Anantapur. Disana orang-orang ini semakin tidak tertahankan ingin melihat Dewi Lakshmi di dalam kelapa itu. Mereka kemudian memecahkan kelapa itu dan arca Dewi Lakshmi yang terbuat dari emas ada di dalam kelapa itu!

     Kemudian mereka baru menyadari bahwa Swami meminta mereka untuk tidak memecahkan kelapa itu. Tapi mereka telah memecahkannya. Mereka menjadi sangat cemas sekali, sehingga mereka kembali ke Puttaparthi dari menemui Swami dan berkata, “Swami, tolong maafkan kami karena kami telah melakukan kesalahan. Tolong berikan kami kelapa yang lainnya lagi.”

       Swami berkata, “Aku tidak akan memberikanmu apapun. Aku mengatakan kepadamu jangan memecahkan kelapa itu dan kamu malah memecahkannya. Aku tidak akan memberikanmu apapun juga.” Orang-orang ini akhirnya pergi.

      Kapanpun Swami menyuruh kita sesuatu, kita seharusnya mengikuti perkataan-Nya dengan taat. Swami hanya mengatakan kepada kita sekali saja. Hanya satu kesempatan yang Swami berikan. Swami tidak memberikan kesempatan kedua bagi siapapun juga. Namun Swami memaafkan ribuan kali. Ketika Swami mengatakan kepada kita untuk tidak melakukan sesuatu hal, kita seharusnya tidak melakukannya. Ini adalah prinsip dari Swami.



Disadur dari buku “Divine Sparkles Abroad” halaman 70 --- Prof. K. Anil Kumar

Friday, 13 March 2015

BHAKTI LEBIH PENTING, BUKAN KUANTITAS



    Pada suatu waktu, ada tiga orang wanita yang sangat pintar dalam memasak membawa banyak jenis makanan di dalam tiga gerobak makanan yang besar.

   Gerobak makanan pertama telah dikirm ke Swami dan Swami melihat gerobak itu dan mengabaikannya. Para bhakta sedang duduk di sana dan mereka bertanya kepada Swami, “Mengapa Swami tidak mengambil apapun dari dalam gerobak makanan itu?”

      Swami berkata, “Lihatlah wanita yang mengirimkan makanan ini, ia selalu marah. Ia tidak pernah tersenyum sama sekali. Ia membentak setiap orang. Dari golongan keluarga seperti itu, Aku tidak mengambil apapun juga.” Jadi Swami membiarkan gerobak makanan itu lewat saja.

         Gerobak makanan kedua juga dikirim ke Swami. Gerobak ini juga menerima perlakuan yang sama. Swami membiarkan saja gerobak makanan itu lewat. Para bhakta bertanya kembali, “Swami, mengapa Swami tidak mengambil apapun dari gerobak makanan kedua ini?”

         Swami menjawab, “Orang-orang ini sama sekali tidak bersih. Mereka selalu mengejek dan menghina. Mereka membentak para pembantu di rumah mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki bhakti kepada Swami. Itulah sebabnya mengapa Aku membiarkan gerobak ini lewat.” Kemudian Swami pura-pura mengambil kacang tanah dari dalam gerobak makanan itu, namun sesungguhnya Swami menjatuhkan kacang tanah itu di lantai.

        Gerobak makanan ketiga datang. Wanita ini adalah seorang bhakta Swami. Swami mengambil semua jenis makanan yang ada dan meminta semua bhakta untuk merasakan makanan yang dipersiapkan oleh wanita ini karena makanan yang dipersiapkan dengan bhakti. Ini adalah perasaan yang penting dan bukan kuantitas atau jumlahnya.

        Ketika kita melakukan sesuatu, jika kita melakukannya dengan perasaan yang baik dan pikiran yang baik maka hal ini akan membuat Swami menjadi senang.


Disadur dari buku “Divine Sparkles Abroad” Halaman 71 oleh Prof. K. Anil Kumar.