Friday, 27 February 2015



TUHAN ADALAH MELAMPAUI SEGALA UNGKAPAN DAN HANYA DAPAT DIALAMI DALAM KEHENINGAN SAJA.
     Bersama dengan Sita dan Laksamana adalah Ramachandra pergi ke ashram. Lihatlah bagaimana Bhagavan Baba menjelaskan tentang hal ini. Di dalam ashram pada waktu itu, laki-laki duduk di sisi bagian lain sedangkan yang wanita duduk terpisah di bagian yang lainnya, sama dengan saat sekarang di Puttaparthi. Dimanapun para wanita adalah sama dan mereka melihat Sita adalah sebagai orang yang baru mereka lihat. Dimana Sita adalah wanita yang paling cantik yang pertama kali mereka kenal. Jadi secara alami mereka ingin mengetahui siapakah dia?
            Beberapa wanita menanyakan namanya. Ia berkata,”saya adalah Sita.”
            “oh, apakah suamimu bersamamu sekarang?”
            “Ya.”
  Dan mereka mulai menunjukkan ke arah laki-laki, ”apakah laki-laki itu adalah suamimu?”             
            “Bukan.”
            “Apakah laki-laki itu adalah suamimu?”
            “Bukan, bukan, bukan.”
      Mereka sedang menunjuk pada beberapa orang dan Sita tetap mengatakan “Bukan, bukan, bukan.” Sampai pada akhirnya mereka menunjuk ke arah Rama dan berkata,”Apakah laki-laki itu adalah suamimu?” Sita hanya menundukkan kepala dengan diam dan tetap diam. Ia tidak mengatakan “ya”.
      Sekarang, bagaimana cara Swami menjelaskan hal ini? Apa yang akan terjadi dalam jaman modern saat sekarang? Laki-laki harus mempelajari hal ini juga. Jika engkau menanyakan seorang wanita,”Apakah laki-laki itu suamimu?” ia akan berkata,”Hey, bangunlah! Katakan hai.” Sita tidak seperti itu. Pada waktu itu, budaya adalah seperti itu. Swami ingin menyampaikan pesan ini : Sita tetap tenang dan diam ketika sudah mulai menyangkut Rama, ia tetap diam.
   Apakah artinya ini? Ini berarti bahwa sepanjang engkau mengalami ini, itu dan sebagainya ....... itu bukanlah spiritual; itu bukanlah keillahian. Apakah ini adalah microphone? Bukan, apakah ini gelas? Bukan. Engkau tetap mengatakan “bukan”. Ketika Tuhan menunjuk,”apakah Ia adalah Tuhan?” engkau tetap diam. Mengapa? Karena Ia melampaui semua ungkapan dan penjelasan, melampaui semua pikiran. Hanya dalam keheningan maka engkau bisa mengalami keillahian.
     Jadi ketika Sita teap diam, itu berarti bahwa ia memiliki pengalaman tentang keillahian. Ketika ia mengatakan ‘bukan’, ia dapat mengetahui apa yang bukan termasuk keillahian. Ketika tiba pada pertanyaan tentang keillahian, ia tetap diam. Inilah cara Swami menjelaskan tentang hal ini.

Disadur dari buku “DIVINE LIFE LINE” – Prof K. Anil Kumar halaman 86-87


LAKUKAN PEKERJAAN TUHAN TANPA ADANYA KERAGUAN
       

   Pada suatu hari Swami meminta Prof Anil Kumar di Kodai Kanal untuk meninggalkan pekerjaannya di Guntur dan datang ke Bangalore untuk menjadi rektor di Universitas di sana. Beliau berkata, “engkau berhentilah disana dan datanglah ke universitas-Ku.”
    Prof Anil Kumar tidak mempersiapkan diri untuk datang ke Bangalore karena ia tahu bagaimana tempatnya dan ia tidak datang ke sana. Namun Swami berkata, “kamu berhenti disana dan datanglah ke tempat-Ku.”
    Namun Prof Anil Kumar bertanya, “Swami, mengapa Engkau memintaku untuk datang ke sini? Saya adalah orang yang tidak cocok dan canggung. Saya adalah yang terbuka; namun tidak ada seorang pun dapat terbuka disini. Saya adalah orang yang bebas; namun Swami dapat lihat disini hanya sedikit sekali orang-orang yang bebas seperti saya. Saya suka kebebasan dan setelah itu saya suka bergaul dengan yang lain dan juga dengan setiap orang. Saya tidak ingin tinggal di dalam suatu kandang, seperti halnya saya ada di kebun binatang. Itu tidak bisa saya terima. Kemudian saya suka bepergian dan berbicara tentang-Mu dan bekerja di organisasi-Mu. Swami tidak bisa hanya menempatkan saya disini saja – teramputasi!” “Selebihnya, keluarga saya ada di sana dan mereka sedang menempuh pendidikan dan mereka menginginkan kehadiran saya. Saya mempunyai ibu yang berusia 80 tahun dan semuanya itu; jadi bagaimana saya bisa meninggalkan disana dan datang ke sini?”
    Dan pada sore itu Swami memberikan ceramah: “Kamu, bangunlah dan terjemahkan, “Beliau berkata. Prof Anil Kumar mulai menerjemahkan sabda Bhagavan. Sabda Bhagavan terkait tentang Rama menyuruh Hanuman untuk pergi ke Alengka untuk mencari Sita.
     Sebelum itu, Rama sedang menanyakan setiap orang, “Apakah engkau mau pergi ke Alengka?” salah satu menjawab, “hamba tidak bisa Swami karena hamba tidak memiliki pengalaman terkait akan hal ini.”
              “Oho! Apakah kamu mau pergi ke sana?”
           “Sebenarnya hamba mau melakukan ini jika saja saya jaraknya tiga atau empat mil jauhnya .... namun seratus mil? Hamba tidak bisa melakukannya. Hamba minta maaf.”
                “Bagaimana denganmu?”
            Jambavan berkata, “hamba adalah seorang pensiunan. Hamba mungkin bisa melakukannya ketika waktu muda dulu, namun tidak saat sekarang. Hamba mohon maaf.” Jadi setiap orang berkata, “kami tidak bisa, kami tidak bisa.”
            Akhirnya Rama menanyakan Hanuman, “apakah kamu mau pergi ke sana?” “Ya, hamba siap untuk pergi.”
            “Apakah kamu tahu kemana kamu akan pergi?”
            “Tuanku meminta hamba pergi ke Alengka; maka dari itu hamba siap untuk pergi sekarang juga.”
            “Apakah engkau pernah pergi ke sana sebelumnya?”
            “Tidak pernah tuanku.”
            “Apakah kamu penya pengalaman tentang hal ini sebelumnya?”
            “Tidak tuanku”
        “Pernahkah kamu menyebrangi lautan? Apakah kamu tahu kesulitannya ketika menyebrangi lautan yang luas itu?”
     “Hamba tidak pernah menyebrangi lautan. Hamba juga tidak mengetahui kesulitannya.”
            “Oho! Apakah kamu tahu letak Alengka?”
            “Hamba juga tidak tahu, tuanku.”
            “Apakah engkau tahu bagaimana penampilan Sita?”
            “Hamba tidak pernah bertemu dengannya. Hamba tidak pernah melihatnya.”
            “Jadi, kamu akan pergi ke tempat yang kamu tidak ketahui, melalui sebuah jalan yang juga kamu tidak ketahui, untuk bertemu dengan seseorang yang tidak pernah kamu temui. Lantas, bagaimana kamu akan pergi kesana? Kecuali kamu pernah menemuinya sebelumnya, lantas bagaimana cara kamu mengenali Sita? Bagaimana cara kamu akan pergi? Disana akan ada banyak wanita. Bagaimana kamu memastikan tentang Sita?
         Kemudian Hanuman berkata, “Swami, jika Engkau menyuruh haman untuk pergi, itu berarti Engkau akan memberikan semua kekuatan, semua kemampuan, semua energi dan kecerdasan untuk pergi dan mengenali ibu Sita dan mengembalikannya dengan selamat dengan rahmat-Mu.”
       Bhagavan Baba kemudian melihat ke arah Prof Anil kuamr dengan menyindir, dengan senyuman Swami. Prof Anil Kumar melihat jelas makna yang Swami sampaikan yaitu : “Diamlah. Ketika Aku ingin kamu datang, itu berarti Aku menginginkanmu datang ke sini. Itu saja. Adalah tugas-Ku untuk menjaga semuanya.” Ini adalah sesuatu yang spesial dengan Swami. Beliau tidak akan mengatakan pesan-Nya secara langsung; Beliau akan menyampaikannya dengan cara yang indah sekali.
      Tentu saja, jika kita nakal dan bandel maka Swami akan menyampaikannnya dengan tegas; namun jika kamu menangkap maksud dan pesan yang disampaikan dengan baik, maka semuanya akan baik-baik saja. Kemudian Swami melihat ke arah Prof Anil Kumar yang secara langsung mengerti dan mendapatkan apa yang Swami maksudkan.

Disadur dari buku “DIVINE LIFE LINE”--- Prof Anil Kumar halaman 82-84